PENGARUH INTERNET TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA
Awal mula adanya internet adalah sebuah proyek Departemen Pertahanan AS, yang disebut dengan ARPANET ( Advanced Research Project Agency Network) pada tahun 1969 dimana bertujuan untuk menghubungkan computer-komputer yang ada didaerah penting untuk memantau dan mengantisipasi serangan nuklir dari Negara Uni Soviet. Proyek tersebut terus dikembangkan hingga akhirnya dipecah menjadi 2 bagian yaitu MILNET yang berguna untuk keperluan militer saja dan ARPANET yang dapat digunakan hanya untuk keperluan non-militer atau pada bidang penelitian di universitas dan pada bidang pendidikan. Dari kedua jaringan tersebut akhirnya digabungkan yang akhirnya disebut dengan nama DARPA Internet atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan Internet yang berasal dari singkatan Interconnected Network.
Pemanfaatan Internet yang awalnya hanya untuk militer semata, sekarang ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas, pemanfaatan ini dari sekedar mencari informasi untuk tugas-tugas, chatting, sarana jual-beli barang serta jasa, transaksi bank hingga mengirim laporan ke perusahaan. Secara umum internet telah menjadi gaya hidup bahkan menjadi bagian dari kebutuhan manusia sehari-hari, walau di Indonesia belum sampai 10% dari jumlah penduduknya pengguna internetnya, namun aktifitas masyarakat diwilayah yang sangat mudah terkoneksi dengan jaringan internet baik melalui media transmisi data seperti kabel, fiber optic dan gelombang radio, sebagian besar masyarakat tersebut tidak bisa lepas dari perangkat-perangkat cerdas seperti PDA,Notebook dan telepon genggam(HP), agar selalu bisa mengupdate informasi-informasi baru dari dunia maya. Dunia internet atau biasa disebut dengan dunia maya telah mendobrak batas ruang dan waktu serta telah menciptakan berbagai permasalahan di dunia pendidikan saat ini. Internet telah membuat revolusi baru pada kehidupan manusia saat ini. Beberapa penemuan seperti telegram, radio, telepon dan computer merupakan rangkaian dari kerja ilmiah yang menuntun terciptanya Internet yang lebih berkemampuan dari pada alat-alat sebelumnya. Internet berkemampuan untuk menyiarkan informasi keseluruh dunia, mekanisme diseminasi informasi dan media berkolaborasi dalam berinteraksi antara individu dengan komputernya tanpa dibatasi oleh kondisi geografis.
Dampak positif dari teknologi Internet adalah bahwa internet memiliki kemampuan yang tinggi dalam menjelajah, teknologi internet juga mampu memberikan kepuasan terhadap penggunanya. Kepuasan yang didapat juga beragam, mulai dari kepuasan dalam mendapatkan informasi sampai pada kepuasan dalam mengekspresikan diri. Berbagai fasilitas informasi yang telah tersedia lalu ramai-ramai diadopsi oleh manusia untuk dijadikan media referensi dalam mencapai tujuannya, internet pun digunakan sebgai media dalam mencari teman baru. Teknologi tersebut berguna untuk meningkatkan komunikasi dan kontak dengan anggota kelaurga dan sahabat. Nilai yang ditawarkan oleh teknologi intrernet dapat diumpamakan sebagai suatu system jalan raya dengan adanya transpotasi berkecepatan tinggi yang memperpendek perjalanan. Menurut jurnal Vibiz Consulting, orang-orang saat ini semakin terbuka akan adanya berbagai informasi pribadi, opini dan emosi. Semakin meningkatnya transparansi, maka pandangan masyarakat mengenai privasi semakin berubah, walaupun membuat privasi orang semakin berkurang.
Teknologi internet saat ini telah menjadi besar sebagai alat informasi dan komunikasi yang tidak dapat lagi diabaikan. Dimana internet memiliki tingkat kecepatan dan interaksi yang dapat dinikmati penggunanya untuk menyiarkan pesannya tanpa harus terlebih dahulu memikirkan jarak geografis yang jauh. Hal-hali tersebut dapat terlihat dari semakin banyaknya orang yang lebih memilih mengirim surat atau laporan memlaui email, orang-orang yang lebih memilih belanja online daripada datang langsung ketoko. Dalam dunia pendidikan pula, teknologi internet hadir sebagai media yang sangat multifungsi. Berbagai peranan internet antara lain sebagai akses kesumber informasi, alat bantu pembelajaran, fasilitas pembelajaran dan sebagai infrastruktur system informasi dalam institusi lembaga pendidikan. Berbagai peranan ini dinilai sangat penting karena dapat meningkatkan arus informasi dengan sangat cepat dan menjadi poin utama bagi perkembangan pendidikan di Indonesia di era global saat ini.
Namun selain memiliki dampak positif, internet juga memiliki dampak negative bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah penggunaan internet tehadap perkembangan anak-anak, dimana mereka dapat dengan sangat mudah mengakses konten yang belum pantas dilihat seperti konten pornografi,belum adanya pengamanan dan kesadaran dari setiap individu membuat hal-hal seperti itu sangat sulit untuk dipantau. Selain hal tersebut, dengan semakin banyaknya orang yang terhubung satu sama lain, maka privasi seseorang pun semakin berkurang dan terganggu. Ditambah lagi dengan adanya kejahatan internet, system pengamanan dapat dijebol dengan mudah oleh cracker, seperti alamat, data pribadi, rahasia perusahaan dan nomor kartu kredit dan ATM, dimana dapat disalahgunakan oleh orang lain.
Dampak negative teknologi internet yang sangat dikhawatirkan adalah semakin tingginya sikap individualitas antara manusia, dimana hal ini dapat mengurangi interaksi personal secara langsung di kehidupan sehari-hari yang tanpa disadari dengan sendirinya membentuk kerenggangan dalam hubungan social dan kualitas dalam kepekaan social juga akan tumpul karena terlalu seringnya menggunaka perantara( teknologi internet dalam berkomunikasi). Dampak lain yang timbul karena teknologi internet adalah dampak psikologi pada manusia. Diantaranya adalah perubahan interaksi antara manusia dan penggusuran manusia itu sendiri. Pada interaksi manusia, dengan kehadiran computer yang terkoneksi dengan internet pada kehidupan rumah tangga golongan menegah keatas ternyata telah merubah interaksi keluarga tersebut. Program internet, email dan internet relay chatting (IRC) telah membuat setiap orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu dengan tersedianya berbagai macam warung internet atau biasa dikenal dengan internet telah membuat pelaung pada banyak orang yang tidak memiliki computer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan mudah. Inilah yang menimbulkan apakah kematangan social seseorang datang lebih awal atau terlambat.
Pada dampak penggusuran manusia, kehidupan telah digerakkan oleh teknologi informasi, dimana kesuksesan hidup di dunia sangat bergantung pada penguasaan pengetahuan, kemampuan dalam mengelola emosi dan kemampuan dalam mengelola hubungan social. Persaingan yang timbul dalam kehidupan baik kehidupan bisnis, bermasyarakat, kehidupan individual telah ditentukan oleh kemampuan dalam berinovasi. Teknologi informasi telah mengubah dunia kerja, dari cara kerja yang bertumpu pada otot beralih ke pekerjaan yang bertumpu pada otak. Pekerjaan pada masa sekarang ini lebih menuntut pekerja yang berpengetahuan, kondisi ini yang telah membuat jurang social antara yang mereka yang berpengetahuan dengan mereka yang tidak berpengetahuan, dimana mereka yang tidak berpengetahuan akan tergusur dari dunia kerja. Selain itu juga ada hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, dimana mereka yang memiliki pengetahuan maka memiliki kekuasaan dan mereka yang tidak memiliki pengetahuan maka tidak memiliki kekuasaan tersebut.
KESIMPULAN
Setiap teknologi yang ada didunia ini memang memiliki efek positif terhadap kehidupan manusia, tetapi juga ada efek negative terhadap kehidupan dari teknologi yang ada saat ini. Semua efek-efek tersebut sangat tergantung dari tiap individu dalam menggunakan teknologi tersebut, individu tersebut dapat memanfaatkan teknologi tersebut dengan cukup baik untuk kebaikkan dirinya atau indvidu tersebut justru tidak dapat menggunakan teknologi tersebut demi kebaikkannya. Jika dapat memanfaatkan teknologi dengan baik maka individu tersebut akan diterima dilingkungan kehidupan sebagai individu yang memiliki nilai lebih yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi jika tidak dapat memanfaatkan teknologi tersebut maka individu tersebut akan tergusur dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dan tidak aka nada yang menilainya sebagai individu yang patut diperhitungkan dalam kehidupan.
referensi(dengan perubahan):
http://saba809.blogspot.com/2011/01/pengaruh-internet-dalam-kehidupan.html
http://anakajaip.multiply.com/journal/item/196/dampak_internet_bagi_kehidupan_manusia
Sabtu, 07 Mei 2011
Rabu, 16 Maret 2011
PENGARUH GEOGRAFIS TERHADAP SIFAT SESEORANG
PERBEDAAN ORANG JAWA PEDALAMAN DAN METROPOLIS
PENDAHULUAN
Setiap manusia yang hidup di Indonesia pasti memiliki perbedaan satu dengan yang lain, tetapi seperti yang dianut oleh bangsa Indonesia bahwa berbeda-beda tapi tetap satu jua yang memberikan keindahan di Negara Indonesia, dimana setiap masyarakat tetap dapat berkomunikasi atau berinteraksi satu dengan yang lainnya walau dibatasi oleh perbedaan dari dalam diri masing-masing orang.
Disini saya akan membahas mengenai pengaruh geografis terhadap sifat-sifat orang Jawa, walaupun dipengaruhi oleh letak geografis tetapi perbedaan tersebut dapat ditolerir karena adanya saling pengertian atau pemahaman satu dengan yang lainnya.
Orang Jawa Pedalaman
Sifat orang jawa sebenarnya dapat dicirikan sebagai orang yang pendiam, penerima (nurut), dan penuh dengan basa-basi, selalu adanya kebersamaan dalam melakukan sesuatu, dimana banyak orang yang bukan Jawa menyatakan “pokoknya orang Jawa itu jauh dari sifat yang blak-blakkan dan mau menang sendiri”, dan ada juga yang menyatakan “ orang Jawa suka bicara gak jujur dan berbelit-belit”. Tapi sebenarnya maksud dari sifat yang tidak blak-blakkan itu adalah agar tidak menyinggung hati orang lain saat berbicara, dan juga orang Jawa yang tinggal di pedalaman lebih suka mengerjakan suatu hal secara bersama-sama dengan alas an agar tali persaudaraan semakin erat dan dalam menjalani hidup semakin ringan dengan adanya saudara senasib sepenanggungan. Kebanyakan dari orang Jawa yang tinggal di pedalaman sebenarnya masih mempercayai hal-hal yang bersifat mistis atau mitos yang dapat mendatangkan malapetaka jika melanggarnya.
Orang Jawa Metropolis
Sebenarnya orang Jawa yang tinggal di kota tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan atau sifat dari sukunya, hanya saja karena pengaruh lingkungan yang notabene adalah kota dimana terkenal dengan kehidupan yang teknologinya lebih maju, jarang adanya kebersamaan(individualis), cara bicara yang lebih terbuka dan lebih luas cangkupannya. Akhirnya orang Jawa yang tinggal dikota memiliki sifat yang lebih terbuka atau orang lebih suka mengatakan blak-blakkan, dan bagi orang yang hidup di kota tidak ada yang namanya kebersamaan seperti orang- orang yang ada didesa atau pedalaman, jika tidak bisa mandiri hidup dikota maka orang tersebut akan tersingkir karena perkembangan jaman.
KESIMPULAN
Walau sama-sama orang Jawa, sebenarnya yang mempengaruhi perbedaan adalah letak geografisnya, dimana membuat seseorang menyesuaikan cara berpikir, berprilaku dan tanpa disadari akhirnya mengubah sifat dari tiap individu yang tinggal diberbagai tempat. Orang-orang Jawa yang tinggal di pedalaman(desa) dengan orang-orang Jawa yang tinggal di kota, sebenarnya jika dilihat secara umum tidak ada perbedaan yang mendasar, karena pada satu kondisi tertentu orang-orang tersebut akan berlaku yang sama walau dalam tempat atau daerah yang berbeda. Tetapi jika dilihat secara khusus, perbedaanya yang sangat mendasar adalah cara berpikirnya saja, dimana orang yang tinggal dikota akan berpikir lebih maju dan berkembanga daripada orang yang tinggal di pedalaman(desa).
REFERENSI:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080909213549AAtZgk6
http://blognyajeng.blogspot.com/2009/06/sebagai-orang-jawa-ini-yang-saya.html
PENDAHULUAN
Setiap manusia yang hidup di Indonesia pasti memiliki perbedaan satu dengan yang lain, tetapi seperti yang dianut oleh bangsa Indonesia bahwa berbeda-beda tapi tetap satu jua yang memberikan keindahan di Negara Indonesia, dimana setiap masyarakat tetap dapat berkomunikasi atau berinteraksi satu dengan yang lainnya walau dibatasi oleh perbedaan dari dalam diri masing-masing orang.
Disini saya akan membahas mengenai pengaruh geografis terhadap sifat-sifat orang Jawa, walaupun dipengaruhi oleh letak geografis tetapi perbedaan tersebut dapat ditolerir karena adanya saling pengertian atau pemahaman satu dengan yang lainnya.
Orang Jawa Pedalaman
Sifat orang jawa sebenarnya dapat dicirikan sebagai orang yang pendiam, penerima (nurut), dan penuh dengan basa-basi, selalu adanya kebersamaan dalam melakukan sesuatu, dimana banyak orang yang bukan Jawa menyatakan “pokoknya orang Jawa itu jauh dari sifat yang blak-blakkan dan mau menang sendiri”, dan ada juga yang menyatakan “ orang Jawa suka bicara gak jujur dan berbelit-belit”. Tapi sebenarnya maksud dari sifat yang tidak blak-blakkan itu adalah agar tidak menyinggung hati orang lain saat berbicara, dan juga orang Jawa yang tinggal di pedalaman lebih suka mengerjakan suatu hal secara bersama-sama dengan alas an agar tali persaudaraan semakin erat dan dalam menjalani hidup semakin ringan dengan adanya saudara senasib sepenanggungan. Kebanyakan dari orang Jawa yang tinggal di pedalaman sebenarnya masih mempercayai hal-hal yang bersifat mistis atau mitos yang dapat mendatangkan malapetaka jika melanggarnya.
Orang Jawa Metropolis
Sebenarnya orang Jawa yang tinggal di kota tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan atau sifat dari sukunya, hanya saja karena pengaruh lingkungan yang notabene adalah kota dimana terkenal dengan kehidupan yang teknologinya lebih maju, jarang adanya kebersamaan(individualis), cara bicara yang lebih terbuka dan lebih luas cangkupannya. Akhirnya orang Jawa yang tinggal dikota memiliki sifat yang lebih terbuka atau orang lebih suka mengatakan blak-blakkan, dan bagi orang yang hidup di kota tidak ada yang namanya kebersamaan seperti orang- orang yang ada didesa atau pedalaman, jika tidak bisa mandiri hidup dikota maka orang tersebut akan tersingkir karena perkembangan jaman.
KESIMPULAN
Walau sama-sama orang Jawa, sebenarnya yang mempengaruhi perbedaan adalah letak geografisnya, dimana membuat seseorang menyesuaikan cara berpikir, berprilaku dan tanpa disadari akhirnya mengubah sifat dari tiap individu yang tinggal diberbagai tempat. Orang-orang Jawa yang tinggal di pedalaman(desa) dengan orang-orang Jawa yang tinggal di kota, sebenarnya jika dilihat secara umum tidak ada perbedaan yang mendasar, karena pada satu kondisi tertentu orang-orang tersebut akan berlaku yang sama walau dalam tempat atau daerah yang berbeda. Tetapi jika dilihat secara khusus, perbedaanya yang sangat mendasar adalah cara berpikirnya saja, dimana orang yang tinggal dikota akan berpikir lebih maju dan berkembanga daripada orang yang tinggal di pedalaman(desa).
REFERENSI:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080909213549AAtZgk6
http://blognyajeng.blogspot.com/2009/06/sebagai-orang-jawa-ini-yang-saya.html
Senin, 21 Februari 2011
HUBUNGAN PSIKOLOGI DAN MATEMATIKA
PSIKOLOGI DAN MATEMATIKA
Benarkah ada keterkaitan satu dengan yang lain antara ilmu Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari dan Matematika? Ternyata, ya!
Memang secara umum Matematika adalah ilmu yang berhubungan erat dengan angka-angka, dan Psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia dan perkembangannya dimana dapat dipengaruhi dari dalam dan dari luar, jika dipengaruhi dari dalam seperti keluarga dan jika dipengaruhi dari luar seperti lingkungan sekitar, dan teman. Sebenarnya memang agak sulit untuk memahami atau mengerti bagian manakah dari Matematika yang berhubungan langsung dengan Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sebenarnya ada beberapa materi dalam Matematika yang dapat dikatakan berhubungan seperti:
-Himpunan
-Peluang
Tetapi yang akan saya bahas saat ini adalah Himpunan, dimana dalam matematika Himpunan adalah kumpulan unsure-unsur atau benda yang diterangkan dengan jelas, dan penulisan himpunan diberi tanda kurung kurawal. Benda yang terdapat didalam himpunan biasa disebut anggota atau elemen.
{..................}
Di dalam himpunan terdapat beberapa cabang himpunan seperti Himpunan yang Sama, Himpunan Bagian, Himpunan Semesta,Diagram Venn, Gabungan Himpunan, dan Irisan Himpunan. Dan yang akan saya gunakan sebagai contoh yang mudah untuk dipahami adalah Irisan himpunan.
Dalam Matematika:
A = {2,3,5,6,9}
B ={3,5,2,9}
Jadi, A n B ={2,3,5,9}
Dalam Psikologi:
Orang ke-I = {periang, egois, manja, cerdas}
Orang ke- II={mandiri, cerdas, egois, sok tahu, manja}
Jadi Orang ke- I n Orang ke- II ={cerdas, egois, manja}
Dari dua bentuk himpunan tersebut kita sebenarnya sudah dapat mengetahui bahwa pada orang pertama, ia memiliki sifat yang periang, egois, manja, dan cerdas. Sedangkan pada orang kedua, ia memiliki sifat yang mandiri, cerdas, egois, sok tahu dan manja. Jadi sebenarnya pada orang pertama dan kedua memiliki kesamaan sifat yaitu cerdas, egois, dan manja. Kesimpulannya adalah bahwa Matematika dapat digunakan dalam mengklasifikasikan sifat-sifat manusia yang dipelajari dalam Psikologi, dan sebenarnya kedua ilmu tersebut sebenarnya sangatlah jauh berbeda, yang satu adalah ilmu Pasti dan yang satunya adalah ilmu Sosial. Jadi sudah dapat dibuktikan bahwa sebenarnya memang Matematika dapat digunakan di ilmu Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Riyanti, Dwi B.P., Prabowo,Hendro., dan Puspitawati, Ira. Psikologi Umum 1. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Team yayasan pendidikan haster. Ikhtisar Rumus-Rumus Lengkap Matematika Untuk SMP. Bandung: Pionir Jaya.
Benarkah ada keterkaitan satu dengan yang lain antara ilmu Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari dan Matematika? Ternyata, ya!
Memang secara umum Matematika adalah ilmu yang berhubungan erat dengan angka-angka, dan Psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia dan perkembangannya dimana dapat dipengaruhi dari dalam dan dari luar, jika dipengaruhi dari dalam seperti keluarga dan jika dipengaruhi dari luar seperti lingkungan sekitar, dan teman. Sebenarnya memang agak sulit untuk memahami atau mengerti bagian manakah dari Matematika yang berhubungan langsung dengan Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sebenarnya ada beberapa materi dalam Matematika yang dapat dikatakan berhubungan seperti:
-Himpunan
-Peluang
Tetapi yang akan saya bahas saat ini adalah Himpunan, dimana dalam matematika Himpunan adalah kumpulan unsure-unsur atau benda yang diterangkan dengan jelas, dan penulisan himpunan diberi tanda kurung kurawal. Benda yang terdapat didalam himpunan biasa disebut anggota atau elemen.
{..................}
Di dalam himpunan terdapat beberapa cabang himpunan seperti Himpunan yang Sama, Himpunan Bagian, Himpunan Semesta,Diagram Venn, Gabungan Himpunan, dan Irisan Himpunan. Dan yang akan saya gunakan sebagai contoh yang mudah untuk dipahami adalah Irisan himpunan.
Dalam Matematika:
A = {2,3,5,6,9}
B ={3,5,2,9}
Jadi, A n B ={2,3,5,9}
Dalam Psikologi:
Orang ke-I = {periang, egois, manja, cerdas}
Orang ke- II={mandiri, cerdas, egois, sok tahu, manja}
Jadi Orang ke- I n Orang ke- II ={cerdas, egois, manja}
Dari dua bentuk himpunan tersebut kita sebenarnya sudah dapat mengetahui bahwa pada orang pertama, ia memiliki sifat yang periang, egois, manja, dan cerdas. Sedangkan pada orang kedua, ia memiliki sifat yang mandiri, cerdas, egois, sok tahu dan manja. Jadi sebenarnya pada orang pertama dan kedua memiliki kesamaan sifat yaitu cerdas, egois, dan manja. Kesimpulannya adalah bahwa Matematika dapat digunakan dalam mengklasifikasikan sifat-sifat manusia yang dipelajari dalam Psikologi, dan sebenarnya kedua ilmu tersebut sebenarnya sangatlah jauh berbeda, yang satu adalah ilmu Pasti dan yang satunya adalah ilmu Sosial. Jadi sudah dapat dibuktikan bahwa sebenarnya memang Matematika dapat digunakan di ilmu Psikologi dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Riyanti, Dwi B.P., Prabowo,Hendro., dan Puspitawati, Ira. Psikologi Umum 1. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Team yayasan pendidikan haster. Ikhtisar Rumus-Rumus Lengkap Matematika Untuk SMP. Bandung: Pionir Jaya.
Senin, 29 November 2010
TES AKHIR
4. Ubahlah 251(8 )menjadi bilangan biner.
2 5 1
binernya 010-101-001
hasilnya 010101001
5. 110101101011 (2) menjadi bilangan hexadesimal
110101101011 (2) di kelompokan menjadi 1101-0110-1011
1101 punya bilngan D hexadesimsal
0110 punya bilangan G hexadesimal
10111 punya bilangan B hexadesimal
jadi hasilnya 110101101011 punya bilangan DGB(16)
2 5 1
binernya 010-101-001
hasilnya 010101001
5. 110101101011 (2) menjadi bilangan hexadesimal
110101101011 (2) di kelompokan menjadi 1101-0110-1011
1101 punya bilngan D hexadesimsal
0110 punya bilangan G hexadesimal
10111 punya bilangan B hexadesimal
jadi hasilnya 110101101011 punya bilangan DGB(16)
TES AWAL
1.Carilah bilangan hexadesimal dari 8754(10 )
Menjadi bilangan biner.
8754 : 16= sisa 2
547 : 16 = sisa 3
34 : 16 = sisa 2
2 : 16 = sisa 1
8754(10 ) = 0001001000110010( 2 )
0001-0010-0011-0010
1232
= 1232(16 )
2.Carilah Bilangan Oktal dari 872(10 )
Dibagi dengan bilangan octal (8)
872 : 8 = 0
109 : 8 = 5
13 : 8 = 5
Hasil 1
872(10 )= 1550(8 )
3.Hitunglah nilai oktal dari 101110111(2 )
(101110111)2 di kelompokan menjadi 101-110-111
101 adalah bilangan 5 oktal
110 adalah bilangan 6 oktal
111 adalah bilangan 7 oktal
jadi hasilnya 101110111 punya bilangan 567 oktal
Menjadi bilangan biner.
8754 : 16= sisa 2
547 : 16 = sisa 3
34 : 16 = sisa 2
2 : 16 = sisa 1
8754(10 ) = 0001001000110010( 2 )
0001-0010-0011-0010
1232
= 1232(16 )
2.Carilah Bilangan Oktal dari 872(10 )
Dibagi dengan bilangan octal (8)
872 : 8 = 0
109 : 8 = 5
13 : 8 = 5
Hasil 1
872(10 )= 1550(8 )
3.Hitunglah nilai oktal dari 101110111(2 )
(101110111)2 di kelompokan menjadi 101-110-111
101 adalah bilangan 5 oktal
110 adalah bilangan 6 oktal
111 adalah bilangan 7 oktal
jadi hasilnya 101110111 punya bilangan 567 oktal
Kamis, 25 November 2010
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A. Pengertian Tanggung Jawab
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab merupakan berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya sebagai kesadaran dan kewajibannya.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik, atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian dan pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan.
Banyaknya bentuk tanggung jawab menyebabkan terasa sulit merumuskannya dalam bentuk kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti. Tetapi kalau kita amati lebih jauh, pengertian tanggung jawab selalu berkisar pada kesadaran untuk melakukan, kesediaan
untuk melakukan, dan kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Pada dasarnya banyak keluarga berharap dapat mengajarkan tanggung jawab dengan memberikan tugas-tugas kecil kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai orangtua biasanya berkeinginan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak mereka masing-masing. Tuntutan yang teguh bahwa anak harus setia melakukan tugas-tugas kecil itu, memang menimbulkan ketaatan. Namun, bersamaan dengan itu dapat pula timbul suatu pengaruh yang tidak kita inginkan dalam pembentukan watak anak, karena pada dasarnya rasa tanggung jawab bukanlah hal yang dapat diletakkan pada seseorang dari luar, rasa tanggung jawab tumbuh dari dalam, mendapatkan pengarahan dan pemupukan dari sistem nilai yang kita dapati dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasa tanggung jawab yang tidak bertumpuk
pada nilai-nilai positif, adakalanya dapat berubah menjadi sesuatu yang membuat sang anak menjadi anti sosial. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mendidik anak dari
usia dini agar menjadi anak yang bertanggung jawab:
• Memberi teladan yang baik.
Dalam mengajarkan tanggung jawab kepada anak, akan lebih berhasil dengan memberikan suatu teladan yang baik. Cara ini mengajarkan kepada anak bukan saja apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya, akan tetapi juga bagaimana orangtua melakukan tugas semacam itu.
• Tetap dalam pendirian dan teguh dalam prinsip.
Dalam hal melakukan pekerjaan, orangtua harus melihat apakah anak melakukannya dengan segenap hati dan tekun. Penting bagi orangtua untuk memberikan suatu perhatian pada tugas yang tengah dilakukan si anak. Janganlah sekali-kali kita menunjukkan secara langsung tentang kesalahan-kesalahan anak, tetapi nyatakanlah bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan demikian orantua tetap dalam pendirian, dan teguh dalam prinsip untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anaknya.
• Memberi anjuran atau perintah hendaknya jelas dan terperinci.
Orangtua dalam memberi perintah ataupun anjuran, hendaklah diucapkan atau disampaikan dengan cukup jelas dan terperinci supaya anak mengerti dalam melakukan tugas yang dibebankan kepadanya.
• Memberi ganjaran atas kesalahan.
Orangtua hendaknya tetap memberi perhatian kepada setiap pekerjaan anak yang telah dilakukannya sesuai dengan kemampuannya. Tidak patut mencela pekerjaan anak yang tidak diselesaikannya. Kalau ternyata anak belum dapat menyelesaikan pekerjaannya saat itu, anjurkanlah untuk dapat melakukan atau melanjutkannya besok hari. Dengan memberikan suatu pujian atau penghargaan, akan membuat anak tetap berkeinginan menyelesaikan pekerjaan itu. Seringkali orangtua senang menjatuhkan suatu hukuman kepada anak yang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya. Andaikan memungkinkan lebih baik memberikan ganjaran atas kesalahan dan tidak hanya semata-mata mempermasalahkannya.
• Jangan banyak menuntut.
Orangtua selayaknya tidak patut terlalu banyak menuntut dari anak, sehingga dengan sewenang-wenang memberi tanggung jawab yang
tidak sesuai dengan kemampuan sang anak. Berikanlah tanggung jawab itu dengan cara bertahap-tahap, agar si anak dapat menyanggupi dan menyenangi pekerjaan itu. Ada suatu kebiasaan yang keliru pada orangtua saat mendidik anak, adalah bahwa mereka seringkali sangat memperhatikan dan mengikuti emosinya sendiri. Tetapi sebaliknya emosi anak-anak justru kurang diperhatikan. Orangtua boleh saja marah kepada anak, akan tetapi jagalah supaya kemarahan yang dinyatakan dalam tindakan seperti omelan dan hukuman itu benar-benar tepat untuk perkembangan jiwa anak. Dengan perkataan lain, marahlah pada saat si anak memang perlu dimarahi.
Anak-anak yang sudah mampu berespon secara tepat, adalah anak yang sudah mampu berfikir dalam mendahulukan kepentingan pribadi. Dan anak seperti ini sudah tinggal selangkah lagi kepada pemilikan rasa tanggung jawab. Pada hakekatnya tanggung jawab itu tergantung kepada kemampuan sang anak sendiri, janganlah lantas kita mengatakan bahwa anak yang berusia tujuh tahun itu tidak mempunyai tanggung jawab, karena tidak menjaga adiknya secara baik, sehingga si adik terjatuh dari atas kursi atau tempat tidur. Sesungguhnya anak yang baru berusia tujuh tahun tidak akan mampu
melakukan hal seperti itu. Sebenarnya beban tanggung jawab yang diserahkan pada seorang anak haruslah disesuaikan dengan tingkat kematangan anak. Untuk itu dengan sendirinya orangtua perlu lebih jauh mengenal tentang kemampuan anaknya. Dalam memberikan suatu informasi kepada anak tentang hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan adalah sangat penting. Tanpa pengetahuan ini anak tidak bisa disalahkan bila ia tidak mau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun untuk sekedar memberitahu secara lisan, seringkali tidak cukup. Orangtua juga harus bisa menjelaskan dengan contoh bagaimana caranya melakukan hal tersebut, disamping harus dijelaskan alasan-alasan mengapa hal itu harus dilakukan, atau tidak boleh dilakukan.
Biasanya kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang konkrit, seperti: apakah tingkah lakunya sopan atau tidak, kamar anak bersih atau tidak, apakah si anak sering terlambat dating ke sekolah atau tidak dan sebagainya. Seorang anak bisa saja berlaku sopan, datang ke sekolah tepat pada waktunya, tetapi masih juga membuat keputusan-keputusan yang tidak bertanggungjawab.
Rasa tanggung jawab sejati haruslah bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusiaan, dimana nilai-nilai tidak dapat diajarkan secara langsung. Nilai-nilai dihirup oleh anak dan menjadi bagian dari dirinya hanya melalui proses identifikasi, dengan pengertian lain, anak menyamakan dirinya dengan orang yang ia cintai dan ia hormati serta berusaha meniru mereka. Pengalaman-pengalaman konkrit tertentu memperkokoh pelajaran itu, sehingga menjadi bagian dari watak dan kepribadian anak. Jadi jelaslah, bahwa masalah rasa tanggung jawab pada anak, akhirnya kembali pada orangtuanya sendiri, yaitu seperti tercermin dalam mengasuh dan mendidik anak.
B. Macam-macam Tanggung Jawab
• Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengambangkan kepribadian sebagai manusia prbadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan berdasarkan sifat dasar, manusia adalah mahluk bermoral namun manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, angan-angan sendiri sebagai perwujudan dari pendapat perasaan dan angan-angan masnusia dalam berbuat atau bertindak.
• Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan Masyarakat kecil, keluarga terdiri dari suami-istri , ayah ibu dan anak-anak, serta orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga tapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan pendidikan dan kehidupan
• Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusai tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk social. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Dengan demikian manusia merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertaggung jawabkan kepada masyarakat.
• Tanggung jawab kepada Bangsa/Negeri
Setiap manusia adalah warga Negara pada suatu Negara dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku, manusia terikat oleh norma norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh Negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri bila perbuatan manusia itu salah maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
• Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupan manusia untuk mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga dikatakan tindakan manusia tidak lepas dari hukuman-hukuman Tuhan. Yang diruangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika perungatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan. Berarti manusia telah meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan terhadap Tuhan sebagai penciptanya. Bahkan untuk memenuhi tanggungjawabnya manusia harus berkorban.
Pengabdian dan Pengorbanan
• Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat atas satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan, itu berarti dia mengabdi kepada keluarga. Lain halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan mungkin sampai berhari hari itu bukan pengabdian tapi hanya bantuan saja.
• Pengorbanan
Berasal dari kata korban yang berarti persembahan sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Jadi, pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih dimana, suatu pemberian yang didasarkan atas kesadara moral yang tulus ikhlas. Pengorbanan dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita membaca atau mendengarkan kothbah agama dari kisah para tokoh agama. Bagaimana semestinya wajib berkorban.
From: nothingwrongwithmylongblackhair (dengan perubahan)
Menurut kamus besar bahasa Indonesia Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab merupakan berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya sebagai kesadaran dan kewajibannya.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik, atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian dan pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan.
Banyaknya bentuk tanggung jawab menyebabkan terasa sulit merumuskannya dalam bentuk kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti. Tetapi kalau kita amati lebih jauh, pengertian tanggung jawab selalu berkisar pada kesadaran untuk melakukan, kesediaan
untuk melakukan, dan kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Pada dasarnya banyak keluarga berharap dapat mengajarkan tanggung jawab dengan memberikan tugas-tugas kecil kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai orangtua biasanya berkeinginan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak mereka masing-masing. Tuntutan yang teguh bahwa anak harus setia melakukan tugas-tugas kecil itu, memang menimbulkan ketaatan. Namun, bersamaan dengan itu dapat pula timbul suatu pengaruh yang tidak kita inginkan dalam pembentukan watak anak, karena pada dasarnya rasa tanggung jawab bukanlah hal yang dapat diletakkan pada seseorang dari luar, rasa tanggung jawab tumbuh dari dalam, mendapatkan pengarahan dan pemupukan dari sistem nilai yang kita dapati dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasa tanggung jawab yang tidak bertumpuk
pada nilai-nilai positif, adakalanya dapat berubah menjadi sesuatu yang membuat sang anak menjadi anti sosial. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mendidik anak dari
usia dini agar menjadi anak yang bertanggung jawab:
• Memberi teladan yang baik.
Dalam mengajarkan tanggung jawab kepada anak, akan lebih berhasil dengan memberikan suatu teladan yang baik. Cara ini mengajarkan kepada anak bukan saja apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya, akan tetapi juga bagaimana orangtua melakukan tugas semacam itu.
• Tetap dalam pendirian dan teguh dalam prinsip.
Dalam hal melakukan pekerjaan, orangtua harus melihat apakah anak melakukannya dengan segenap hati dan tekun. Penting bagi orangtua untuk memberikan suatu perhatian pada tugas yang tengah dilakukan si anak. Janganlah sekali-kali kita menunjukkan secara langsung tentang kesalahan-kesalahan anak, tetapi nyatakanlah bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan demikian orantua tetap dalam pendirian, dan teguh dalam prinsip untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anaknya.
• Memberi anjuran atau perintah hendaknya jelas dan terperinci.
Orangtua dalam memberi perintah ataupun anjuran, hendaklah diucapkan atau disampaikan dengan cukup jelas dan terperinci supaya anak mengerti dalam melakukan tugas yang dibebankan kepadanya.
• Memberi ganjaran atas kesalahan.
Orangtua hendaknya tetap memberi perhatian kepada setiap pekerjaan anak yang telah dilakukannya sesuai dengan kemampuannya. Tidak patut mencela pekerjaan anak yang tidak diselesaikannya. Kalau ternyata anak belum dapat menyelesaikan pekerjaannya saat itu, anjurkanlah untuk dapat melakukan atau melanjutkannya besok hari. Dengan memberikan suatu pujian atau penghargaan, akan membuat anak tetap berkeinginan menyelesaikan pekerjaan itu. Seringkali orangtua senang menjatuhkan suatu hukuman kepada anak yang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya. Andaikan memungkinkan lebih baik memberikan ganjaran atas kesalahan dan tidak hanya semata-mata mempermasalahkannya.
• Jangan banyak menuntut.
Orangtua selayaknya tidak patut terlalu banyak menuntut dari anak, sehingga dengan sewenang-wenang memberi tanggung jawab yang
tidak sesuai dengan kemampuan sang anak. Berikanlah tanggung jawab itu dengan cara bertahap-tahap, agar si anak dapat menyanggupi dan menyenangi pekerjaan itu. Ada suatu kebiasaan yang keliru pada orangtua saat mendidik anak, adalah bahwa mereka seringkali sangat memperhatikan dan mengikuti emosinya sendiri. Tetapi sebaliknya emosi anak-anak justru kurang diperhatikan. Orangtua boleh saja marah kepada anak, akan tetapi jagalah supaya kemarahan yang dinyatakan dalam tindakan seperti omelan dan hukuman itu benar-benar tepat untuk perkembangan jiwa anak. Dengan perkataan lain, marahlah pada saat si anak memang perlu dimarahi.
Anak-anak yang sudah mampu berespon secara tepat, adalah anak yang sudah mampu berfikir dalam mendahulukan kepentingan pribadi. Dan anak seperti ini sudah tinggal selangkah lagi kepada pemilikan rasa tanggung jawab. Pada hakekatnya tanggung jawab itu tergantung kepada kemampuan sang anak sendiri, janganlah lantas kita mengatakan bahwa anak yang berusia tujuh tahun itu tidak mempunyai tanggung jawab, karena tidak menjaga adiknya secara baik, sehingga si adik terjatuh dari atas kursi atau tempat tidur. Sesungguhnya anak yang baru berusia tujuh tahun tidak akan mampu
melakukan hal seperti itu. Sebenarnya beban tanggung jawab yang diserahkan pada seorang anak haruslah disesuaikan dengan tingkat kematangan anak. Untuk itu dengan sendirinya orangtua perlu lebih jauh mengenal tentang kemampuan anaknya. Dalam memberikan suatu informasi kepada anak tentang hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan adalah sangat penting. Tanpa pengetahuan ini anak tidak bisa disalahkan bila ia tidak mau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun untuk sekedar memberitahu secara lisan, seringkali tidak cukup. Orangtua juga harus bisa menjelaskan dengan contoh bagaimana caranya melakukan hal tersebut, disamping harus dijelaskan alasan-alasan mengapa hal itu harus dilakukan, atau tidak boleh dilakukan.
Biasanya kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang konkrit, seperti: apakah tingkah lakunya sopan atau tidak, kamar anak bersih atau tidak, apakah si anak sering terlambat dating ke sekolah atau tidak dan sebagainya. Seorang anak bisa saja berlaku sopan, datang ke sekolah tepat pada waktunya, tetapi masih juga membuat keputusan-keputusan yang tidak bertanggungjawab.
Rasa tanggung jawab sejati haruslah bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusiaan, dimana nilai-nilai tidak dapat diajarkan secara langsung. Nilai-nilai dihirup oleh anak dan menjadi bagian dari dirinya hanya melalui proses identifikasi, dengan pengertian lain, anak menyamakan dirinya dengan orang yang ia cintai dan ia hormati serta berusaha meniru mereka. Pengalaman-pengalaman konkrit tertentu memperkokoh pelajaran itu, sehingga menjadi bagian dari watak dan kepribadian anak. Jadi jelaslah, bahwa masalah rasa tanggung jawab pada anak, akhirnya kembali pada orangtuanya sendiri, yaitu seperti tercermin dalam mengasuh dan mendidik anak.
B. Macam-macam Tanggung Jawab
• Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengambangkan kepribadian sebagai manusia prbadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan berdasarkan sifat dasar, manusia adalah mahluk bermoral namun manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, angan-angan sendiri sebagai perwujudan dari pendapat perasaan dan angan-angan masnusia dalam berbuat atau bertindak.
• Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan Masyarakat kecil, keluarga terdiri dari suami-istri , ayah ibu dan anak-anak, serta orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga tapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan pendidikan dan kehidupan
• Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada hakekatnya manusai tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk social. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Dengan demikian manusia merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertaggung jawabkan kepada masyarakat.
• Tanggung jawab kepada Bangsa/Negeri
Setiap manusia adalah warga Negara pada suatu Negara dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku, manusia terikat oleh norma norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh Negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri bila perbuatan manusia itu salah maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
• Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupan manusia untuk mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga dikatakan tindakan manusia tidak lepas dari hukuman-hukuman Tuhan. Yang diruangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika perungatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan. Berarti manusia telah meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan terhadap Tuhan sebagai penciptanya. Bahkan untuk memenuhi tanggungjawabnya manusia harus berkorban.
Pengabdian dan Pengorbanan
• Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat atas satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan, itu berarti dia mengabdi kepada keluarga. Lain halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan mungkin sampai berhari hari itu bukan pengabdian tapi hanya bantuan saja.
• Pengorbanan
Berasal dari kata korban yang berarti persembahan sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Jadi, pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih dimana, suatu pemberian yang didasarkan atas kesadara moral yang tulus ikhlas. Pengorbanan dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita membaca atau mendengarkan kothbah agama dari kisah para tokoh agama. Bagaimana semestinya wajib berkorban.
From: nothingwrongwithmylongblackhair (dengan perubahan)
Manusia dan Keadilan
Dalam kehidupan, setiap manusia dalam melakukan aktifitasnya pasti pernah menemukan perlakuan yang tidak adil atau bahkan sebaliknya, melakukan hal yang tidak adil. Dimana dari setiap diri manusia pasti terdapat dorongan atau keinginan untuk berbuat kebaikan “jujur”. Tetapi terkadang untuk melakukan kejujuran sangatlah tidak mudah dan selalui dibenturkan oleh permasalahan – permasalahan dan kendala yang dihadapinya yang kesemuanya disebabkan oleh berbagai sebab, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.
Dampak positif dari keadilan itu terjadi ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan “protes” dengan caranya sendiri. Dan cara itulah yang dapat menimbulkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apabun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan.
Keadilan adalah pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban. Setiap dari kita “manusia” memiliki itu “hak dan kewajiban”, dimana hak yang dituntut haruslah seimbang dengan kewajiban yang telah dilakukan sehingga terjalin harmonisasi dalam perwujudan keadilan itu sendiri.
Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia dibumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Dimana keadilan memiliki cirri-ciri antara lain ; tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas. Arti moralitas disini adalah sama antara perbuatan yang dilakukan dan ganjaran yang diterimanya. Dengan kata lain keadilan itu sendiri dapat bersifat hukum.
Keadilan sendiri memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan dusta atau kecurangan. Dimana kecurangan sangat identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak jujur. Atau dengan kata lain apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dilakukan.
Kecurangan pada dasarnya merupakan penyakit hati yang dapat menjadikan orang tersebut menjadi serakah, tamak, iri hati, matrealistis serta mengkesampingkan nurani dan sisi moralitas.
Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecurangan antara lain ;
1. Faktor ekonomi. Setiap manusia berhak hidup layak dan membahagiakan dirinya. Terkadang untuk mewujudkan hal tersebut kita sebagai mahluk lemah, sangat rentan sekali dengan hal – hal pintas dalam mencapai apa yang kita inginkan dan pikirkan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan semu tanpa melihat orang lain disekelilingnya.
2. Faktor Peradaban dan Kebudayaan sangat mempengaruhi sikap serta mentalitas individu yang terdapat didalamnya “system kebudayaan” meski terkadang hal ini tidak selalu mutlak. Keadilan dan kecurangan merupakan sikap mental yang membutuhkan keberanian dan sportifitas. Pergeseran moral saat ini memicu terjadinya pergeseran nurani hampir pada setiap individu didalamnya sehingga sangat sulit sekali untuk menentukan dan bahkan menegakan keadilan.
3. Teknis. Hal ini juga sangat dapat menentukan arah kebijakan bahkan keadilan itu sendiri. Terkadang untuk dapat bersikap adil,kita pun mengedepankan aspek perasaan atau kekeluargaan sehingga sangat sulit sekali untuk dilakukan, bahkan mempertahankan keadilan kita sendiri harus bersikap salah dan berkata bohong agar tidak melukai perasaan orang lain. Dengan kata lain kita sebagai bangsa timur yang sangat sopan dan santun.
4. dan lain sebagainya.
Keadilan dan kecurangaan atau ketidakadilan tidak akan dapat berjalan dalam waktu bersamaan karena keduanya sangat bertolak belakang dan berseberangan.
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya
apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu
adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari
perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir malalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Seseorang yang tidak menepati niatnya berarti mendustai diri sendiri. Apabila niat telah
terlahir dalam kata-kata, padahal tidak ditepati, maka kebohongannya disaksikan orang lain.
Sikap jujur perlu dipelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan keadilan, sedang
keadilan mununtut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberaniaan. Teguhlah pada kebenaran, sekalipun kejujuran dapat merugikanmu, serta jangan pula berdusta, walaupun dustamu dapat
menguntungkanmu.
PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jikamenjadi teladan bagi orang disekitamya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a) manusia menurut sifat dasamya adalah mahluk moral
b)ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang hams dipatuhi manusia untuk mewujudkan
dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak.
PEMBALASAN
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.
Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah pebuatan yang melanggar atau mempeikosa hak dan kewajiban manusia lain.
Oleh karena tiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
KEADILAN SOSIAL
Pada sila kelima Pancasila, berbunyi : "keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia."
Dimana dalam dokumen Pancasila terdapat prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara. Selanjutnya prinsip itu dijelaskan sebagai prinsip "tidak ada kerniskinan di dalam Indonesia merdeka".Usul dan penjelasan itu nampak adanya pembauran pengertian kesejahteraan dan keadilan.
Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperlukan perbuatan sebagai berikut:
1) perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
2) Sikap adil terhadap sesarna, menjaaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta
menghonnati hak-hak orang lain.
3) sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan
4) sikap suka bekerja kerns
5) sikap menghargai hasil karya orang lain yang bemianfaat untuk mencapai kemajuan dan
kesejahteraan bersama
Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat dipisahkan dalarn kehidupan manusia karena dalam hidupnya manusia menghadapi keadilan / ketidakadilan setiap hari. Oleh karena itu keadilan dan ketidakadilan, menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musik dan lain-lain.
BERBAGAI MACAM KEADILAN
1. Keadilan legal atau keadilan moral
Keadilan ini timbul dengan sendirinya karena penyatuan dan penyesuaian agar terwujud hubungan sesama manusia yang harmonis satu sama lain.dapat disebut legal karna tanpa kesepakatan tertulis maupun tidak keadilan moral harus terus berjalan untuk keharmonisan hidup bersama.jika tidak dilakukan akan terjadi kekacauan dalam masyarakat,misalnya/contohnya seorang buruh bangunan yang ikut mencampuri urusan kantor yang dibangunnya, agar tidak terjadi kekecewaan dari kliennya terhadap hasil bangunannya.
2. Keadilan distributive
Keadilan distributif atau dengan kata lain keadilan dalam segala macam pembagian.
Contoh senderhananya yaitu pengajar les yang telah mengajar sebulan dan yang mengajar dua bulan harus dibedakan gajinya meski mereka mengajar mata pelajaran yang sama.
3. Keadilan komutatif
Tujuan dari keadilanini adalah untuk menjaga ketertiban masyarakat dan juga kesejahteraan umum.
Semua tindakan yang telihat adil ternyata menjadi ketidakadilan dan merusak pertalian antara manusia lainnya.
Dalam hal lain Kejujuran juga memiliki peranan penting dalam hubungan manusia dan keadilan.
Jika manusia mengutamakan kejujuran dalam hidupnya maka ia telah berbuat kebenaran. Kejujuran akan menunjang seseorang dalam berprilaku adil tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup memerlukan keadilan dan keadilan dapat ditunjang dengan sikap manusia yang jujur.
http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/28/manusia-dan-keadilan/
(dengan perubahan)
Dampak positif dari keadilan itu terjadi ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan “protes” dengan caranya sendiri. Dan cara itulah yang dapat menimbulkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apabun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan.
Keadilan adalah pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban. Setiap dari kita “manusia” memiliki itu “hak dan kewajiban”, dimana hak yang dituntut haruslah seimbang dengan kewajiban yang telah dilakukan sehingga terjalin harmonisasi dalam perwujudan keadilan itu sendiri.
Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia dibumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Dimana keadilan memiliki cirri-ciri antara lain ; tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas. Arti moralitas disini adalah sama antara perbuatan yang dilakukan dan ganjaran yang diterimanya. Dengan kata lain keadilan itu sendiri dapat bersifat hukum.
Keadilan sendiri memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan dusta atau kecurangan. Dimana kecurangan sangat identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak jujur. Atau dengan kata lain apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dilakukan.
Kecurangan pada dasarnya merupakan penyakit hati yang dapat menjadikan orang tersebut menjadi serakah, tamak, iri hati, matrealistis serta mengkesampingkan nurani dan sisi moralitas.
Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecurangan antara lain ;
1. Faktor ekonomi. Setiap manusia berhak hidup layak dan membahagiakan dirinya. Terkadang untuk mewujudkan hal tersebut kita sebagai mahluk lemah, sangat rentan sekali dengan hal – hal pintas dalam mencapai apa yang kita inginkan dan pikirkan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan semu tanpa melihat orang lain disekelilingnya.
2. Faktor Peradaban dan Kebudayaan sangat mempengaruhi sikap serta mentalitas individu yang terdapat didalamnya “system kebudayaan” meski terkadang hal ini tidak selalu mutlak. Keadilan dan kecurangan merupakan sikap mental yang membutuhkan keberanian dan sportifitas. Pergeseran moral saat ini memicu terjadinya pergeseran nurani hampir pada setiap individu didalamnya sehingga sangat sulit sekali untuk menentukan dan bahkan menegakan keadilan.
3. Teknis. Hal ini juga sangat dapat menentukan arah kebijakan bahkan keadilan itu sendiri. Terkadang untuk dapat bersikap adil,kita pun mengedepankan aspek perasaan atau kekeluargaan sehingga sangat sulit sekali untuk dilakukan, bahkan mempertahankan keadilan kita sendiri harus bersikap salah dan berkata bohong agar tidak melukai perasaan orang lain. Dengan kata lain kita sebagai bangsa timur yang sangat sopan dan santun.
4. dan lain sebagainya.
Keadilan dan kecurangaan atau ketidakadilan tidak akan dapat berjalan dalam waktu bersamaan karena keduanya sangat bertolak belakang dan berseberangan.
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya
apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu
adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari
perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir malalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Seseorang yang tidak menepati niatnya berarti mendustai diri sendiri. Apabila niat telah
terlahir dalam kata-kata, padahal tidak ditepati, maka kebohongannya disaksikan orang lain.
Sikap jujur perlu dipelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan keadilan, sedang
keadilan mununtut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberaniaan. Teguhlah pada kebenaran, sekalipun kejujuran dapat merugikanmu, serta jangan pula berdusta, walaupun dustamu dapat
menguntungkanmu.
PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jikamenjadi teladan bagi orang disekitamya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a) manusia menurut sifat dasamya adalah mahluk moral
b)ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang hams dipatuhi manusia untuk mewujudkan
dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak.
PEMBALASAN
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.
Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah pebuatan yang melanggar atau mempeikosa hak dan kewajiban manusia lain.
Oleh karena tiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
KEADILAN SOSIAL
Pada sila kelima Pancasila, berbunyi : "keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia."
Dimana dalam dokumen Pancasila terdapat prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara. Selanjutnya prinsip itu dijelaskan sebagai prinsip "tidak ada kerniskinan di dalam Indonesia merdeka".Usul dan penjelasan itu nampak adanya pembauran pengertian kesejahteraan dan keadilan.
Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperlukan perbuatan sebagai berikut:
1) perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
2) Sikap adil terhadap sesarna, menjaaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta
menghonnati hak-hak orang lain.
3) sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan
4) sikap suka bekerja kerns
5) sikap menghargai hasil karya orang lain yang bemianfaat untuk mencapai kemajuan dan
kesejahteraan bersama
Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat dipisahkan dalarn kehidupan manusia karena dalam hidupnya manusia menghadapi keadilan / ketidakadilan setiap hari. Oleh karena itu keadilan dan ketidakadilan, menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musik dan lain-lain.
BERBAGAI MACAM KEADILAN
1. Keadilan legal atau keadilan moral
Keadilan ini timbul dengan sendirinya karena penyatuan dan penyesuaian agar terwujud hubungan sesama manusia yang harmonis satu sama lain.dapat disebut legal karna tanpa kesepakatan tertulis maupun tidak keadilan moral harus terus berjalan untuk keharmonisan hidup bersama.jika tidak dilakukan akan terjadi kekacauan dalam masyarakat,misalnya/contohnya seorang buruh bangunan yang ikut mencampuri urusan kantor yang dibangunnya, agar tidak terjadi kekecewaan dari kliennya terhadap hasil bangunannya.
2. Keadilan distributive
Keadilan distributif atau dengan kata lain keadilan dalam segala macam pembagian.
Contoh senderhananya yaitu pengajar les yang telah mengajar sebulan dan yang mengajar dua bulan harus dibedakan gajinya meski mereka mengajar mata pelajaran yang sama.
3. Keadilan komutatif
Tujuan dari keadilanini adalah untuk menjaga ketertiban masyarakat dan juga kesejahteraan umum.
Semua tindakan yang telihat adil ternyata menjadi ketidakadilan dan merusak pertalian antara manusia lainnya.
Dalam hal lain Kejujuran juga memiliki peranan penting dalam hubungan manusia dan keadilan.
Jika manusia mengutamakan kejujuran dalam hidupnya maka ia telah berbuat kebenaran. Kejujuran akan menunjang seseorang dalam berprilaku adil tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup memerlukan keadilan dan keadilan dapat ditunjang dengan sikap manusia yang jujur.
http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/28/manusia-dan-keadilan/
(dengan perubahan)
Langganan:
Postingan (Atom)